Mutiara Hikmah yang Mencerahkan dan Menginspirasi
Renungan terakhir Ucheng di tahun 2017 — kumpulan hikmah yang mencerahkan dan menginspirasi pembaca setia Orangbiasaji.
Ada seekor kucing liar yang beberapa kali kulihat di dekat rumah. Bulunya belang, salah satu telinganya tampak sedikit robek, dan tubuhnya kurus seperti lama bersahabat dengan jalanan. Ia tidak pernah datang dengan suara manja. Ia hanya duduk agak jauh, menatap sebentar, lalu pergi ketika aku bergerak terlalu cepat.
Awalnya aku menganggapnya sebagai pemandangan biasa. Namun, pertemuan-pertemuan singkat itu perlahan mengubah cara pandangku terhadap makhluk kecil yang sering diabaikan. Dari kucing jalanan itu, aku belajar bahwa kasih sayang tidak selalu hadir melalui kedekatan yang segera. Kadang, ia tumbuh dari perhatian sederhana, kesabaran, dan kesediaan untuk memahami rasa takut makhluk lain.
Suatu sore, hujan turun deras. Dari balik jendela, kulihat kucing itu meringkuk di bawah teras, berusaha menghindari air yang jatuh dari talang. Tubuhnya menggigil, tetapi ia tetap menjaga jarak dari pintu. Mungkin sebelumnya ia pernah diusir, dipukul, atau dikejar manusia. Pengalaman itu membuatnya mengerti bahwa tempat berlindung belum tentu berarti aman.
Aku mengambil sebuah wadah kecil dan mengisinya dengan air. Setelah itu, kutaruh sedikit nasi dan lauk di dekat tiang teras. Aku tidak memanggilnya, apalagi memaksa agar ia mendekat. Aku hanya membuka kesempatan. Beberapa menit kemudian, ia mencium makanan tersebut, melangkah perlahan, lalu makan sambil sesekali menoleh kepadaku.
Pemandangan itu membuatku teringat pada catatan tentang hujan, terutama tentang bagaimana hujan sering membuat manusia berhenti sejenak dan memperhatikan hal-hal yang sebelumnya luput. Sore itu, air hujan seolah mengajarkanku untuk melihat penderitaan kecil yang selama ini berada tidak jauh dari pandangan.
Hari-hari berikutnya, kucing itu mulai muncul pada waktu yang hampir sama. Ia tidak pernah benar-benar masuk ke rumah. Ia duduk di dekat pagar, menunggu dengan tenang, seolah memahami bahwa kepercayaan membutuhkan waktu. Setiap kali aku meletakkan makanan, ia menunggu sampai aku mundur beberapa langkah.
Ada kesedihan dalam tatapannya, tetapi juga keteguhan. Ia masih mampu berharap meskipun kehidupan jalanan barangkali telah mengajarinya banyak hal buruk. Dari sana aku menyadari bahwa makhluk yang terluka tidak selalu membutuhkan pertolongan besar. Kadang ia hanya memerlukan seseorang yang tidak menambah luka.
Aku mulai mengubah kebiasaan. Jika melihat kucing lain melintas, aku tidak lagi mengusirnya dengan suara keras. Aku belajar berjalan lebih pelan dan memperhatikan gerak tubuhnya. Telinga yang menunduk, ekor yang mengembang, atau langkah yang mundur ternyata merupakan bahasa yang jelas. Kasih sayang bermula dari kemauan untuk membaca bahasa yang tidak diucapkan.
Pada suatu pagi, kucing itu duduk lebih dekat dari biasanya. Jarak antara kami hanya sekitar satu meter. Aku tetap diam, membiarkan tanganku berada di atas lutut. Ia menatapku cukup lama, kemudian mendekati wadah makanan. Setelah selesai makan, ia tidak langsung pergi. Ia duduk di samping wadah, membersihkan kaki depannya dengan gerakan pelan.
Aku ingin menyentuh kepalanya, tetapi kutahan keinginan itu. Ada perbedaan antara memberikan kasih sayang dan memaksakan keakraban. Niat baik tetap dapat terasa menakutkan jika diberikan tanpa memperhatikan batas. Kucing itu mengajariku bahwa hubungan yang sehat dibangun melalui rasa aman, bukan melalui desakan.
Sejak saat itu, aku lebih memahami hubungan dengan sesama manusia. Tidak setiap orang yang diam sedang membenci. Tidak semua orang yang menjauh ingin dilupakan. Sebagian mungkin hanya memerlukan waktu untuk memastikan bahwa kehadiran kita tidak akan melukai mereka.
Perhatianku kepada kucing tersebut berkembang melalui hal-hal sederhana. Aku menyediakan air bersih, membersihkan tempat makannya, dan mencari kardus bekas untuk dijadikan alas ketika malam terasa dingin. Tidak ada tindakan besar yang pantas diceritakan sebagai kepahlawanan. Semua itu hanya kewajaran kecil dari seseorang yang mulai merasa bertanggung jawab.
Namun, dampaknya terasa besar bagi diriku sendiri. Setiap kali melihatnya makan dengan tenang, ada rasa hangat yang muncul. Aku menyadari bahwa memberi tidak selalu membuat kita kehilangan. Sering kali, perhatian yang dibagikan justru mengembalikan sesuatu yang lama hilang: kelembutan hati.
Kucing liar itu juga membuatku lebih peka terhadap hewan-hewan lain di sekitar lingkungan. Aku mulai memperhatikan induk kucing yang mencari makan, anak-anak kucing yang bersembunyi di balik kendaraan, dan burung-burung yang datang ketika suasana sepi. Dunia ternyata dipenuhi kehidupan yang berjalan bersamaan dengan hidup kita, meskipun jarang kita sadari.
Musim hujan membuat pertemuan kami terasa lebih dalam. Beberapa kali kucing itu datang dengan bulu basah dan kaki penuh lumpur. Aku menyediakan kain lama di sudut teras, meskipun ia tidak selalu mau menggunakannya. Pada malam-malam tertentu, ia hanya duduk di atasnya sebentar, lalu tidur dengan posisi meringkuk.
Menunggu kedatangannya membuatku belajar tentang waktu. Ada hari ketika ia tidak muncul sama sekali. Aku sempat khawatir, tetapi kemudian memahami bahwa kucing liar memiliki kehidupannya sendiri. Ia mungkin mencari makan di tempat lain, berkelahi mempertahankan wilayah, atau menemukan tempat aman yang belum kuketahui.
Dalam suasana semacam itu, aku teringat pada renungan mengenai waktu saat hujan yang mengingatkan bahwa setiap perjumpaan memiliki musimnya. Kehadiran seseorang atau seekor hewan tidak selalu berlangsung selamanya. Karena itu, setiap kesempatan untuk berbuat baik layak dihargai ketika masih terbuka.
Lingkungan tempat tinggalku cukup ramai. Kendaraan berlalu-lalang, anak-anak bermain, dan suara orang berbicara sering terdengar hingga malam. Anehnya, kucing itu justru terlihat paling tenang ketika duduk di dekat pagar, mengamati semua kesibukan tanpa ikut terseret olehnya.
Aku belajar menikmati beberapa menit keheningan saat menemaninya. Tidak ada percakapan, tidak ada telepon, dan tidak ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Hanya suara napas, gesekan daun, serta gerakan kecil ekornya. Kehadiran kucing itu menjadi ruang istirahat di tengah rutinitas yang padat.
Pengalaman tersebut mengingatkanku pada tulisan tentang ketenangan di keramaian. Ketenangan ternyata bukan selalu tentang tempat yang sunyi. Ia dapat ditemukan ketika hati berhenti menuntut banyak hal dan mulai menerima momen yang sedang berlangsung.
Beberapa bulan kemudian, kucing itu tidak lagi sering terlihat. Barangkali ia menemukan tempat baru, mengikuti kucing lain, atau pergi karena alasan yang tidak akan pernah kuketahui. Aku sempat merasa kehilangan, meskipun hubungan kami tidak pernah benar-benar seperti hubungan antara pemilik dan hewan peliharaan.
Yang tersisa adalah kebiasaan untuk memperhatikan. Setiap kali melihat kucing liar di jalan, aku teringat pada mata belang yang dahulu menungguku di bawah teras. Aku juga teringat bahwa kasih sayang tidak harus memiliki. Ada perjumpaan yang cukup dijalani dengan tulus, lalu dilepaskan tanpa tuntutan.
Seperti perjalanan yang terus bergerak di sebuah stasiun kehidupan, setiap makhluk hadir untuk meninggalkan pelajaran tertentu. Kucing liar itu datang tanpa janji, mengajariku tentang batas, kesabaran, dan kepedulian, lalu pergi dengan meninggalkan hati yang sedikit lebih lembut.
Renungan terakhir Ucheng di tahun 2017 — kumpulan hikmah yang mencerahkan dan menginspirasi pembaca setia Orangbiasaji.
Tahun 2016 mencatat dua tulisan Ucheng, keduanya terbit di bulan April. Topik ringan khas blog personal.
Delapan tulisan di tahun 2015 mencakup tips membeli domain dan hosting murah, pakan alternatif ternak, hingga curhatan nasabah BCA dan Mandiri di Galesong.
Tahun paling produktif kedua dengan 23 tulisan. Topik beragam: dari arti gowes, cara dapat dollar dari Android, hingga humor khas Makassar.
47 tulisan di tahun 2013 — tahun paling produktif. Topik meliputi dongeng Patorani, strategi hacker ala Galesong, hingga cara mengganti domain Blogspot ke .COM.
70 tulisan di tahun perdana blog. Topik beragam: tren fashion Korea di Indonesia, opini tentang KPK, tradisi Uang Panai, hingga promosi KiosGalesong.