Kisah pahit dan manis merantau di usia muda

Setiap kisah perantauan biasanya bermula dari satu tekad sederhana: ingin mengubah nasib. Merantau di usia muda adalah pilihan banyak anak muda Indonesia yang ingin mengejar mimpi di kota besar, sambil membawa dorongan untuk membuktikan bahwa diri mampu berdiri di atas kaki sendiri. Jakarta, Surabaya, Bandung, atau Yogyakarta menjadi beberapa kota yang sering menjadi tujuan pertama mereka.

Artikel ini lahir dari pengalaman pribadi yang saya tulis ulang sebagai bentuk refleksi. Saya juga pernah menuangkan sebagian kisah ini di catatan pribadi saya, agar ada jejak yang bisa dibaca kembali di kemudian hari. Bukan untuk pamer, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa pernah ada masa-masa yang penuh lika-liku.

Awal mula berangkat

Keputusan untuk merantau tidak pernah datang tiba-tiba. Ada kalanya dorongan itu muncul karena desakan ekonomi, ada pula yang muncul semata-mata karena ingin merasakan hidup yang berbeda dari yang selama ini dikenal. Saya masih ingat betul bagaimana ibu saya menitipkan bekal sederhana di dalam tas, sementara ayah hanya diam seribu bahasa di teras rumah. Kata-kata terakhirnya sederhana, tapi menggetarkan: "Jaga dirimu, nak."

Waktu itu saya belum sepenuhnya paham apa artinya hidup sendiri. Yang saya tahu hanyalah tiket bus satu arah ke kota besar yang sudah saya beli tiga bulan sebelumnya. Modal nekat, semangat muda, dan keyakinan bahwa dunia akan memihak pada mereka yang berani mencoba. Di atas bus yang berderak-derak itu, saya menulis pesan pendek untuk sahabat di kampung: "Aku berangkat. Doakan aku."

Kota yang asing di mata

Setibanya di terminal, saya langsung disergap oleh hiruk-pikuk kota yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Suara klakson, teriakan pedagang, dan aroma knalpot bercampur jadi satu. Saya berdiri di sana seperti orang yang baru jatuh dari langit. Tidak ada yang menunggu, tidak ada tanda pengenal yang jelas, hanya nama sebuah kontrakan kecil yang sudah saya catat di selembar kertas.

Malam pertama saya habiskan untuk menata kamar sempit berlantai semen. Kasur lipat, kipas angin butut, dan jendela yang tidak bisa ditutup rapat. Di luar, hujan turun deras membasahi atap seng. Saya duduk memeluk lutut sambil membayangkan wajah ibu yang mungkin sedang menangis diam-diam. Kesepian pertama itu datang begitu cepat, lebih cepat dari yang saya bayangkan.

Pekerjaan pertama dan dunia yang keras

Keesokan harinya saya mulai menyebarkan lamaran ke mana-mana. Dari pintu ke pintu, dari satu agen ke agen lain. Beberapa kali pintu ditutup di muka, beberapa kali diminta menunggu berjam-jam hanya untuk ditolak dengan alasan yang tidak masuk akal. Saya hampir menyerah pada hari ketiga, sampai akhirnya seorang rekan kerja memperkenalkan saya pada sebuah lowongan di sebuah percetakan kecil.

Pekerjaan itu sederhana, tapi menguras tenaga. Bangun pukul empat pagi, pulang larut malam, dan tidur dengan otot yang masih terasa kaku. Ada satu momen lucu yang masih saya ingat, ketika saya harus belajar menghubungkan dua layar komputer secara bersamaan agar desain cepat selesai. Beruntung saya menemukan panduan dual monitor yang menjelaskan cara bekerja dengan dua monitor tanpa harus pusing, dan dari situ produktivitas saya meningkat drastis.

Minggu-minggu pertama menjadi ujian paling berat. Banyak hal yang harus dipelajari sambil bekerja, mulai dari cara membaca file desain, cara mengoperasikan mesin cetak, hingga cara melayani pelanggan yang rewel. Setiap malam saya menuliskan apa yang sudah dipelajari, agar tidak lupa keesokan harinya.

Teman, rindu, dan pelarian

Lama-kelamaan, kesepian itu mulai terurai. Bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah yang juga sedang merantau. Mereka datang dengan cerita masing-masing: ada yang ingin jadi penulis, ada yang bermimpi jadi pengusaha, ada pula yang sekadar ingin lepas dari tekanan keluarga. Kami sering berkumpul di warung kopi pinggir jalan, saling bertukar keluh kesah sambil menertawakan nasib yang sedang tidak ramah.

Rindu kampung tetap ada, dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Saya sering menelepon ibu hanya untuk mendengar suaranya, walau kadang cuma beberapa detik karena pulsa yang terbatas. Setiap kali suara tangis terdengar di ujung telepon, saya berjanji akan pulang membawa kabar baik. Janji itu kadang saya tepati, kadang tidak.

Catatan kecil yang menyelamatkan

Di tengah kesibukan dan kegalauan, saya menemukan pelarian lewat menulis. Saya mulai mencatat setiap pengalaman, setiap perasaan, setiap pelajaran yang saya petik dari kerasnya hidup di perantauan. Beberapa tulisan saya simpan rapi di buku catatan, sebagian lagi saya abadikan di dunia maya. Catatan-catatan itu kemudian saya tata dalam arsip lama saya, tempat semua refleksi di masa-masa awal perantauan saya kumpulkan rapi.

Salah satu catatan yang paling saya sukai adalah ketika saya menuliskan ulang bagaimana sebuah buku tua berhasil menyelamatkan saya dari keputusasaan. Sampai sekarang, tulisan itu masih sering saya baca ulang ketika butuh pengingat bahwa saya pernah melewati masa-masa yang tidak mudah.

Pulang dengan membawa cerita

Waktu berlalu tanpa terasa. Sudah tiga tahun saya menjalani hidup di perantauan, dengan segala luka dan senyumannya. Ketika akhirnya saya memutuskan pulang untuk sementara, saya membawa oleh-oleh yang tidak terlihat: keyakinan bahwa diri saya sudah lebih kuat dari sebelumnya. Saya juga membawa banyak cerita yang sayang kalau hanya disimpan sendiri. Salah satu yang masih saya simpan baik adalah ulasan buku inspiratif yang pernah saya tulis di masa-masa paling gelap dalam hidup saya.

Sekarang, setiap bertemu anak muda yang baru akan berangkat merantau, saya selalu tersenyum. Saya tahu persis apa yang sedang mereka rasakan, karena saya juga pernah di posisi mereka. Pahit dan manis yang dulu saya rasa ternyata adalah guru terbaik yang pernah saya miliki.

Lihat semua →